Laman

TEKNIK DALAM PANJAT TEBING


Panjat tebing pertama kali dimulai di kawasan Eropa yaitu di pegunungan alpen, sebelum perang dunia I di Negara Austria pada tahun 1910. Baru sepuluh tahun setelahnya pemanjatan menggunakan tali dilakukan yaitu tahun 1920. Mulai saat itu panjat tebing mulai banyak dilakukan mulai dari memanjat tebing-tebing kecil sampai yang tertinggi di kawasan pegunungan alpen tersebut yaitu sekitar tahun 1930, puncaknya saat perang dunia II meletus. Pada saat perang dunia II antusiasme dalam olahraga ini menurun drastis akan tetapi setelah perang berakhir olahraga panjat tebing justru semakin popular ini ditunjukan dengan banyaknya peralatan memanjat yang dibuat dan tak sulit untuk menemukannya.

Di kawasan Yosimete tepatnya tahun 1970 para pemanjat Amerika mengembangkan teknik-teknik memanjat baru dan teknik-teknik tersebut sampai saat ini masih digunakan untuk memanjat tebing-tebing besar, Awalnya teknik pemanjatan terkotak-kotak menurut Negara masing-masing, pada saat itu Negara yang paling mendominasi adalah Inggris dan Amerika sampai mereka memakai sistem dan teknik yang sama dalam memanjat. Francis juga merupakan Negara yang memiliki andil besar dalam perkembangan olahraga ini karena merupakan Negara pertama yang membuat panjat tebing mengarah ke olahraga murni.

Mulai saat itu panjat tebing semakin popular dan tersebar luas mulai dari Negara-negara di eropa, amerika hingga menjalar ke asia sekitar tahun 1980 sampai akhirnya melepaskan diri dari induknya yang awalnya bagian dari kegiatan mendaki gunung menjadi berdiri sendiri olahraga panjat tebing.

PERKEMBANGAN OLAHRAGA PANJAT TEBING DI INDONESIA

Di Indonesia sendiri olahraga panjat tebing sudah dikenal sejak tahun 1960-an dimana pada saat itu sudah berdiri kelompok pencinta alam yaitu mapala UI dan WANADRI yang sudah memiliki bidang untuk pendakian gunung. Namun baru di tahun 1975 panjat tebing berdiri sendiri. Pada saat itu ada beberapa orang yang anggap berjasa membawa olahraga panjat tebing ini menjadi popular di Indonesia yaitu Harry Suliztiarto, Agus Resmonohadi, Hery Hermanu dan Dedi Hikmat mereka melakukan latihan panjat tebing di tebing citatah, jawa barat.

Di tahun 1989 Kantor kementrian pemuda dan olahraga bekerjasama dengan CCF yaitu pusat kebudayaan perancis  mengundang 3 orang pemanjat tebing professional yaitu Patrick Bernhault, Jean Baptise Tribout dan Corrine Lebrune untuk datang ke Indonesia dan memperkenalkan olahraga panjat tebing kepada masyarakat umum tentu ini semakin membuat olahraga ini menjadi kian populer hingga saat ini.

I. JENIS PANJAT TEBING BERDASARKAN PENGGUNAAN ALAT

Berdasarkan penggunaan peralatan olahraga panjat tebing dikelompokan atau terbagi 2 (dua) yaitu :

1.1 ARTIFICIAL CLIMBING

Memanjat tebing dengan system artificial berarti memanjat dengan peralatan sebagai factor utama dalam suksesnya pemanjatan, peralatan disini bukan hanya dipakai sebagai alat pengaman tetapi juga sebagai alat penambah ketinggian, system ini biasa dipakai untuk tebing-tebing besar walau tidak tertutup kemungkinan dipakai juga untuk tebing-tebing kecil. Namum agar pemanjatan bisa berjalan dengan cepat dan aman, kemampuan teknik tetap menjadi yang utama.

1.2 FREE CLIMBING

Berbeda dengan Artificial dalam free climbing peralatan tidak digunakan untuk menambah ketinggian akan tetapi hanya sebatas alat pengaman saat pemanjat terjatuh, jadi disini peralatan sama sekali tidak mempengaruhi gerak si pemanjat. Pemanjat di amankan oleh seorang belayer yang selalu siaga dan tak jarang juga sesekali memberi arahan terhadap si pemanjat dalam menuntaskan sebuah jalur.

Dalam perkembangannya free climbing ini terbagi dua yaitu:

1.2.1 TOP ROPE

Top rope adalah jenis pemanjatan dimana tali sudah terpasang sebelumnya, tali tersebut akan dipasang pada pemanjat sebagai pengaman.

1.2.2 SOLO

Solo dalam pemanjatan free climbing berarti proses memanjat dilakukan seorang diri dimana sipemanjat sendiri  berperan sebagai Leader merangkap Cleaner dan Belayer. Sedangkan solo sendiri juga dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :

1.2.2.1 SOLO ARTIFICIAL CLIMBING
1.2.2.2 SOLO FREE CLIMBING

BACA JUGA : MENGENAL TEKNIK FREE SOLO CLIMBING DALAM PANJAT TEBING

II. JENIS PANJAT TEBING BERDASARKAN SISTEM BELAY

Berdasarkan system belay atau system pengamannya olahraga panjat tebing terbagi beberapa kategori antara lain :

2.1 GYM CLIMBING

Pada pemanjatan jenis ini, posisi belayer berada dibawah dan tali pengaman dibelokan oleh system anchor bisa menggunakan pulley atau carabiner yang dipasang di atas si pemanjat, jika si pemanjat terjatuh maka beban si pemanjat akan di belokan oleh system anchor sebelum ditahan oleh belayer.

2.2 TOP ROPING

Pada pemanjatan tipe ini, posisi yang membelay (belayer) berada di atas (top) jadi tali pengaman akan ke bawah menuju si pemanjat. Agar belayer tidak terlalu besar menahan beban saat pemanjat terjatuh biasa dibuat system pengalihan beban atau pembelok berfungsi juga untuk pengaman pembantu.

2.3 LEAD CLIMBING

Pada jenis ini tali pengaman terpasang langsung ke pemanjat jadi tali dibawa sendiri oleh si pemanjat dari bawah diawal pemanjatan sampai atas (top). Disepanjang jalur panjat, si pemanjat memasang sendiri tali tersebut di titik-titik tertentu. Jika si pemanjat terjatuh ia akan tertahan di pengaman yang terakhir dipasangnya. Belayer bertindak untuk menggunci  tali pengaman agar pemanjat tetap tergantung diatas. Lead Climbing ini terbagi 2 (dua) antara lain :

2.4 SPORT CLIMBING

Pada sport climbing jalur pemanjatan umumnya sudah dipasang alat untuk mengaitkan runner sebagai pengaman jadi sepanjang jalur pemanjatan sudah di bolted pada titik-titik di ketinggian tertentu. Sport climbing bisa dilakukan di tebing alam bisa juga di dinding buatan. Pemanjatan jenis ini yang ditekankan adalah factor olahraganya sama seperti main futsal atau olahraga lainnya.

2.5 TRAD CLIMBING

Trad climbing singkatan dari tradisional climbing atau sering juga disebut adventure climbing adalah jenis pemanjatan yang lebih menitik beratkan pada sisi petualangannya, hanya dilakukan ditebing alam. Kondisi jalur belum terpasang bolts apalagi sudah dicantol hanger jadi jalur benar-benar bersih karena tak ada pengaman buatan yang terpasang. Dilakukan oleh dua orang yaitu seorang leader dan belayer untuk jalur yang panjang biasa dipasang picth (station belay) bisa single ataupun multy picth. Pemanjat harus membawa peralatan untuk pengamannya sendiri dan memasang pada saat memanjat dan belayer tetap pada posisinya dibawah untuk membelay. Pada titik-titik tertentu si pemanjat akan membuat picth (station belay) untuk membelay si pemanjat kedua (belayer), belayer akan memanjat sambil membersihkan semua pengaman yang dipasang oleh leader sampai keduanya berhasil berada diatas (top).

BACA JUGA : TEKNIK DASAR TRAD CLIMBING

III. JENIS PANJAT TEBING BERDASARKAN LAMA PEMANJATAN DAN KETINGGIAN JALUR

Berdasarkan lamanya waktu pemanjatan dan ketinggian jalur, jenis panjat tebing terbagi menjadi beberapa macam antara lain :

3.1 BOULDERING

Bouldering adalah memanjat bebatuan besar atau tebing berukuran kecil, bouldering tidak memerlukan peralatan yang rumit seperti pemanjatan lainnya, untuk keamanan si pemanjat hanya dengan crashpad ini karena rute pemanjatan tidak terlalu panjang. Gerakannyapun biasa tidak ke atas tetapi kesamping (traverse) atau diagonal. Selain punya kelas sendiri dalam panjat tebing banyak fungsi lain dari melakukan bouldering diantaranya adalah :

- Sebagai pemanasan sebelum melakukan panjat tebing
- Melatih gerakan-gerakan yang sulit
- Juga berguna untuk melatih daya tahan (endurance)

BACA JUGA : TEKNIK DASAR BOULDERING

3.2 CRAG CLIMBING

Crag climbing adalah memanjat tebing yang lebih tinggi, system yang dipakai bebas dan biasanya dalam menyelesaikan rute digunakan dengan cara memasang picth (station belay), picth disini ternagi 2 (dua) yaitu :

3.2.1 SINGLE PICTH CLIMBING

Pada memanjatan jenis ini hanya dipasang 1 picth (station belay) diatas yang berguna untuk mengamankan si pemanjat kedua untuk naik.

3.2.2 MULTI PICTH CLIMBING

Untuk jenis ini biasa dilakukan di tebing yang lebih tinggi karena harus melakukan pergantian leader dalam proses pemanjatannya, setiap pemanjat akan bergantian di picth yang telah ditentukan. Dalam satu jalur bisa terdapat beberapa picth (station belay).

BACA JUGA : TEKNIK PEMANJATAN MULTI PITCH PADA PANJAT TEBING

3.3 BIG WALL CLIMBING

Big wall disini berrarti tebing yang berukuran sangat besar juga tinggi, untuk menyelesaikan pemanjatan biasa membutuhkan waktu berhari-hari dengan peralatan yang sangat lengkap. Big wall climbing adalah jenis pemanjatan termahal dibanding jenis-jenis pemanjatan lainnya dalam panjat tebing. Dalam melakukan pemanjatan big wall climbing terbagi lagi menjadi 2 (dua) system yaitu :

3.3.1 ALPINE TACTIC

Sistem alpine tactic adalah dimana sipemanjat tidak turun lagi ke bawah saat sudah memulai pemanjatan jadi semua peralatan pemanjat hingga perlengkapan tidur di bawa serta keatas sampai berhasil kepuncak, Jadi bisa dikatakan pada pemanjatan jenis ini :

- Waktu pemanjatan biasa lebih singkat
- Peralatan yang digunakan lebih sedikit
- Perlu dilakukan load carry

3.3.2 HIMALAYA TACTIC

Pada system ini si pemanjat akan turun kebawah biasa pada sore hari untuk istirahat di basecamp sambil menyiapkan pemanjatan untuk keesokan harinya, tentu peralatan sebagian masih tertinggal di atas untuk memudahkan pemanjatan dihari berikutnya, dan ini terus dilakukan sampai berhasil menuju ke puncak. Jadi pada Himalaya tactic :

- Waktu pemanjatan biasa lebih lama
- Peralatan yang dibutuhkan juga menjadi lebih banyak
- Tapi tidak membutuhkan load carry

IV. JENIS PANJAT TEBING BERDASARKAN KONDISI MEDAN DAN TINGKAT KESULITAN

4.1 BERDASARKAN KONDISI MEDAN PEMANJATAN

Berdasarkan Kondisi medan teknik panjat tebing terbagi menjadi 6 tingkat, sebenarnya klasifikasi ini berlaku juga saat mendaki gunung. Diantaranya adalah :

Klas I - Posisi tubuh masih tegak lurus berjalan tanpa peralatan
Klas II - Medan sudah agak sulit dan perlu bantuan kaki dan tangan
Klas III - Medan mulai agak curam an sudah perlu teknik tertentu
Klas IV - Sudah mulai sulit, tali sudah digunakan sebagai pengaman
Klas V - Semakin sulit dan semakin banyak diperlukan pengaman
Klas VI - Pemanjatan sepenuhnya bergantung pada alat pengaman

4.2 BERDASARKAN TINGKAT KESULITAN

Berdasarkan Tingkat kesulitan (grading system) panjat tebing terbagi dalam beberapa tingkatan, antara lain :

4.2.1 FRANCH GRADING SYTEM

Sistem ini banyak di gunakan di Negara-negara eropa seperti francis, pada system ini tingkat kesulitan di hitung berdasarkan pergerakan dan panjang atau tinggi lintasan medan pemanjatan. Penulisannya menggunakan system penomoran dimulai dari nomor 1 yang artinya sangat mudah (very easy) dengan system terbuka artinya memungkinkan penambahan huruf dibelakangnya, contoh : 1, 2, 5b, 6c dst, juga memungkinkan penambahan + untuk tingkat kesulitan yang lebih misalnya 7c+. Walau secara umum system ini dipakai di Negara-negara eropa tidak berarti tingkat kesulitannya sama pula.

4.2.2 YOSIMETE DECIMAL SYSTEM

Sistem perhitungan ini digunakan di amerika dan menyebar ke Kanada juga ke daerah amerika lainnya, juga kenegara negara di asia termasuk Negara kita Indonesia umumnya memakai system ini. System ini mengacu pada 5 tingkat yang disusun oleh Sierra Club, yaitu :

KELAS 1
Pada kelas ini perjalanan biasanya tidak membutuhkan bantuan tangan untuk mendaki atau menambah ketinggian. Disebut juga Cross Cuntry Hiking

KELAS 2
Pada kelas ini pendakian atau pemanjatan sudah memerlukan sedikit bantuan tangan tapi masih bisa dilakukan tanpa tali di sebut juga Scrambing.

KELAS 3
Sedikit diatas scrambing dengan medan bebatuan, menguasai teknik memanjat sangat membantu disini dan untuk pendaki yang kurang pengalaman dapat menggunakan tali sebagai pengaman, disebut juga Easy Climbing.

KELAS 4
Pada kelas ini tali sudah digunakan untuk pengaman yang dipasangkan di titik-titik anchor (penambat) baik anchor alami ataupun anchor buatan. Disebut juga Rope Climbing With Belaying.

KELAS 5
Sampai pada system decimal yang menggunakan angka 5 berarti medan pemanjatan sudah sepenuhnya menggunakan tali dan dibutuhkan penguasaan teknik pemanjatan yang baik untuk sampai keatas. Standar tingkat kesulitan ini dibuat oleh amerika dibagi menjadi 11 tingkatan dimulai dari 5.1 sampai 5.14, semakin tinggi angka dibelakang 5 berati semakin sulit tingkat rute pemanjatan.

GRADE 5.7 dan 5.8 ini menunjukan tingkat kesulitan yang sangat mudah, dijalur pemanjatan masih banyak pegangan dan pijakan yang sangat banyak, berukuran besar mudah didapat dan sudut kemiringannyapun belum 90 derajat.

GRADE 5.9 ditingkat ini jalur pemanjatan sudah mulai sulit ini ditandai dengan jarak antara pegangan dan pijakan sudah mulai berjauhan walau demikian masih dalam jumlah yang banyak berukuran besar.

GRADE 5.10 pada tingkat ini jalur pemanjatan sudah lebih sulit karena komposisi pegangan dan pijakan sudah bervariasi ada yang besar dan ada yang kecil dan jarak antar pegangan juga pijakan pun sudah mujlai berjauhan, terdapat dua tumpuan tangan dan satu tumpuan kaki  jadi factor keseimbangan sangat berpengaruh ditingkat ini.

GRADE 5.11 dan 5.12 tingkat kesulitan semakin tinggi ini dikarenakan letak antara pegangan sudah mulai berjauhan kecil-kecil bahkan banyak yang hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja. Posisi kakipun sudah mulai melebar agar tetap bisa melakukan tumpuan untuk pijakan berikutnya. Factor keseimbangan tubuh sangat berpengaruh. Bentuk tebing pada lintasan pun sangat bervariasi antara tebing gantung dan atap (roof).

GRADE 5.13 dan 5.14 ini tingkat tersulit untuk saat ini, kondisi jalur hampir mulus seperti kaca, dibutuhkan teknik, kekuatan dan daya tahan yang sangat bagus untuk bisa menyelesaikan rute ini. Dimana tumpuan untuk pegangan dan pojakan sangat minim di tingkat ini. Tak jarang pemanjat hanya bertumpu pada satu kaki dan satu tangan. Teknik gesekan (friction) sudah sering dipakai bahkan fungsi kaki sesekali berubah menjadi tangan (hooking) ditingkat ini.

4.3 KELAS A

Sistem pada kelas ini menunjukan seorang pemanjat atau pendaki harus menggunakan alat, kelas ini dibagi menjadi 5 (lima) tingkatan yaitu A1 sampai A5. Misalkan :

Pada rute pemanjatan di tebing dengan grade 5.5 tidak bisa dilewati tanpa bantuan alat A3, ini artinya tingkat kesulitan tebing tersebut menjadi 5.5 – A3

Masih ada beberapa pembagian kelas lagi dalam pengkategorian tingkat kesulitan dalam kegiatan mendaki/panjat tebing ini seperti Ewbank System, British Grading System, Brazilian Grade System, Alaska Grade System dan Alpine Grade System dan akan penulis bahas dilain kesempatan.

V. DIFINISI MOTTO DAN ETIKA DALAM PANJAT TEBING



5.1 DIFINISI PANJAT TEBING

Panjat tebing adalah salah satu jenis kegiatan olahraga di alam bebas yang menitik beratkan pada kemampuan menyelesaikan setiap rute pada permukaan tebing. Panjat tebing tentu tidak bisa hanya dilakukan dengan berjalan kaki. Kemampuan membaca jalur, memiliki kekuatan, dayatahan dan kelenturan serta bisa bersahabat dengan setiap pegangan dan pijakan sangat dibutuhkan dalam olahraga yang satu ini, berbicara soal andrenaline sepertinya hampir semua olahraga yang berbasis alam bebas selalu dapat memicu andrenaline. Pada umumnya panjat tebing dilakukan di kontur bebatuan tebing yang keras dengan posisi permukaan tebing bervariasi mulai dari sudut 90 derajat, 45 derajat, sampai 180 derajat.

Pada perkembangannya panjat tebing saat ini bukan hanya sebatas olahraga alam, dilihat dari tujuannya panjat tebing terbagi beberapa macam, antara lain :

Panjat tebing untuk kepuasan pribadi - disini pelaku melakukan kegiatan panjat tebing murni untuk kepuasan pribadi atau hobby, membuat rekor pribadi, mengukur batas kemampuan diri sendiri dan berbagai motivasi lainnya.

Panjat tebing untuk mengejar prestasi - pemanjatan untuk tujuan prestasi umumnya dilakukan di dinding panjat membawa nama pribadi, club atau organisasi sampai negara dan dibina mulai dari usia anak-anak untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan mulai tingkat daerah sampai kejuaraan internasional. Di Indonesia badan yang membawahi olahraga ini adalah FPTI (Feredeasi Panjat Tebing Indonesia).

Panjat tebing sebagai mata pencaharian - pada tahap ini panjat tebing sudah sebagai kegiatan profesi untuk mencari nafkah, dengan kemampuan memanjat serta licenci yang dimiliki ia  bisa bekerja di berbagai bidang dengan medan vertical. contohnya  adalah orang-orang yang bekerja di ketinggian.

5.2 MOTTO PANJAT TEBING

Motto populer dalam olahraga panjat tebing adalah Otak, Otot, Nasib. Motto ini bisa diartikan sebagai berikut :

OTAK

Ini berarti seorang pamanjat tebing harus memiliki kemampuan khusus dan menguasai teknik-teknik pemanjatan seperti membaca jalur, teknik gerakan, pegangan serta pijakan yang baik juga bisa menggunakan peralatan memanjat dengan baik.

OTOT

Ini berarti seorang pemanjat selain harus memiliki kemampuan teknis juga harus memiliki kemampuan fisik yang baik. Seperti memiliki kekuatan, daya tahan dan kelenturan tubuh yang baik, tentunya ini tidak  bisa didapat secara instan, semua harus melalui proses latihan yang terus menerus.

NASIB

Setelah Otak dan Otot factor terakhir yang menentukan suksesnya sebuah pemanjatan adalah factor nasib atau factor keberuntungan, selalu berdoa sebelum memanjat dan selalu waspada adalah cara terbaik untuk mendapatkan hal tersebut.

5.3 ETIKA DALAM PANJAT TEBING

Dalam setiap kegiatan atau olahraga pasti ada etika atau kode etik yang harus dipatuhi apalagi olahraga yang dilakukan di alam bebas, tujuannya adalah agar proses kegiatan berjalan dengan aman dan lancar juga meminimalisir kerusakan alam yang pada akhirnya asset alam tersebut akan selalu terjaga dengan baik. Begitu juga dengan olahraga panjat tebing, beberapa etika atau kode etik tersebut antara lain :

- Pemanjatan pertama bisa melakukan pembersihan membuka jalur akan tetapi harus meminimalisir kerusakan tanaman dan bebatuan asli.
- Dilarang merusak pegangan dan pijakan
- Meminimalisir penggunaan Piton. Bor digunakan hanya sebagai alternative terakhir, begitu juga penggunaan magnesium hanya pada saat dibutuhkan saja.

VI. ORGANISASI DALAM PANJAT TEBING

Seperti halnya olahraga bola kaki dengan badan organisasi tertingginya adalah FIFA begitu juga dalam olahraga panjat tebing juga memiliki organisasinya sendiri, berikut ini penulis akan membahas mulai dari organisasi tertinggi sampai organisasi panjat tebing yang ada di Indonesia.


6.1 UIAA (Union Internationale des Associations d'Alpinisme)

UIAA adalah badan dunia yang bertanggung jawab terhadap semua masalah meliputi study dan solusi tentang gunung. Terbentuk di Chamonix, Francis pada bulan agustus tahun 1932, pada saat itu ada 20 asosiasi gunung bertemu untuk kongres alpine. Salah satu tugasnya adalah melakukan licency untuk peralatan pendaki ataupun panjat tebing. Makanya untuk saat ini semua peralatan memanjat layak digunakan kalau sudah ada lisensi dari UIAA.


6.2 IFSC (International Federation of Sport Climbing)

IFSC atau dalam bahasa indonesianya Federasi Internasional Panjat Tebing adalah sebuah badan organiasi yang terbentuk pada tanggal 27 Januari 2007 yang merupakan kelanjutan dari rapat dewan untuk kompetisi panjat tebing dunia yang didirikan pada tahun 1997. IFSC adalah sebuah organisasi not profit non pemerintah, ini adalah badan resmi dunia untuk penyelenggaraan kompetisi memanjat tingkat olimpiade. Tujuan dari badan ini adalah untuk mengatur, mengarahkan, mempromosikan, dan melakukan pengembangan terus menerus terhadap olahraga panjat tebing dan kompetisinya di seluruh dunia.


6.3 FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia)

FPTI adalah badan tertinggi yang menaungi olahraga panjat tebing di indonesia, terbentuk tanggal 21 april 1998. Tujuan utama dari organisasi ini adalah melakukan pembinaan demi tercapainya prestasi dalam olahraga panjat tebing baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu FPTI juga bertujuan memupuk persaudaraan dan persahabatan antar bangsa. FPTI sendiri sudah menjadi anggota UIAA pada tahun 1992, dan dua tahun setelahnya baru menjadi anggota KONI yaitu tahun 1994, dan menjadi anggota IFSC pada tahun 2007. Sampai saat ini FPTI sudah memiliki 25 Pengurus Cabang (PENGCAB) mulai dari Aceh sampai Papua dan mungkin akan terus bertambah.

BACA JUGA : DAFTAR PENGURUS CABANG (PENGCAB) FPTI SE-ACEH


6.4 BSAPI (Badan Standarisasi Pemanjat Indonesia)

BSAPI adalah lembaga independen yang bertugas mengembangkan, memelihara, dan mengelola standar pemanjat indonesia. Fungsi dari BSAPI ini antara lain menerbitkan dan mengelola database untuk aktifitas, peralatan dan juga fasilitas olahraga panjat tebing di Indonesia. Dengan standard an sertifikasi dari BSAPI masyarakat pengguna mendapat kepastian hukum mengenai status pelaku aktifitas, fasilitas atau pembuat produk panjat tebing.

6.5 LPS (Lembaga Pelatihan dan Sertifikasi) Panjat Tebing Indonesia

LPS panjat tebing Indonesia adalah sebuah lembaga independen yang berdiri pada tanggal 28 Oktober 2010 dan menjadi sebuah lembaga dengan akte notaris yang dibuat tanggal 9 mei 2011. Tujuan utama dari lembaga ini adalah mengelola pelatihan dan sertifikasi panjat tebing di Indonesia. Disetiap propinsi ada pengurus tingkat kota ataupun kabupaten. LPS Panjat tebing Indonesia sudah mendapat akreditasi dari Lembaga Akreditasi Nasional Keolahragaan (LANKOR).

VII. BAGIAN - BAGIAN DARI PERMUKAAN TEBING

Dalam olahraga panjat tebing tentu yang menjadi media tempat memanjat adalah tebing kalau dinding namanya panjat dinding, seorang pemanjat yang baik tentu harus mengetahui seluk beluk tentang olahraga yang digemarinya, termasuk juga pengetahuan tentang media tebing itu sendiri. Ini penting untuk diketahui karena disitulah nanti tempat kita berpegang juga berpijak sewaktu memanjat. Sebuah tebing memiliki bagian-bagiannya sehingga membentuk tebing yang utuh mulai dari bagian bawah sampai atas, dibawah ini adalah bagian-bagian dari permukaan tebing yang harus diketahui :

BLANK – ini adalah permukaan tebing yang tegak lurus membentuk sudut 90 derajat atau disebut juga vertical, biasanya ini adalah bentuk permukaan tebing yang paling luas daripada bentuk permukaan tebing yang lain.

OVER HANK – ini adalah bentuk permukaan tebing yang miring besar sudut kemiringannya antara 10 – 80 derajat, semakin kecil sudutnya tentu semakin besar usaha yang dibutuhkan untuk bisa melewatinya.

ROOF – roof atau atap, ini adalah bentuk permukaan tebing dengan sudut 0 – 180 derajat, bagian ini biasanya tidak terlalu panjang pada sebuah tebing, dan mungkin bagian tersulit karena pemanjat harus merangkak horizontal dengan posisi dinding diatas dan tubuh dibawah. Lagipula kalau harus melewati bentuk permukaan yang seperti ini disarankan jangan berlama-lama diarea tersebut karena sangat menguras tenaga.

TERAS – secara spesifikasi sama dengan roof,mempunyai sudut 0 – 180 derajat, hanya saja teras adalah kebalikan dari roof. Dalam pemanjatan multipicth, teras biasa dijadikan tempat memasang picth (station belay) untuk membelay pemanjat kedua.

TOP – bagian akhir dari sebuah tebing, tujuannya para pemanjat, walau sebenarnya top bagi pemanjat tidak selalu harus kepermukaan paling atas dari tebing, bisa saja top itu di runner terakhir yang terpasang.



VIII. PERSIAPAN SEBELUM PANJAT TEBING

Sebaiknya sebelum memulai memanjat anda ditemani oleh seorang yang sudah cukup terlatih dibidang olahraga ini, hal ini karena olahraga panjat tebing baru berjalan kalau dilakukan setidaknya oleh dua orang, seorang bertindak sebagai pemanjat dan seorang lagi membelay, kecuali untuk bouldering dan itupun kalau anda sudah cukup mahir kalau belum sebaiknya juga ditemani oleh seorang patner yang sudah mahir, selain berfungsi untuk membackup saat anda terjatuh anda akan banyak belajar cara memanjat dari patner anda.

Untuk pemula ada baiknya melakukan pemanjatan di dinding panjat terlebih dahulu, ini sangat bermanfaat untuk melatih mental dan teknik, teknik disini bukan hanya kemampuan dalam menguasai gerakan tetapi juga kemampuan menggunakan peralatan panjat sesuai dengan prosedur selain itu juga untuk meminimalisir kecelakaan yang bisa saja terjadi, karena bagaimanapun terbentur di dinding papan atau fiber tidak secetar di tebing asli. Saat ini hampir semua dareah sudah ada tempat untuk memanjat baik itu papan panjat dari Pengurus Cabang Federesi Panjat Tebing Indonesia ataupun dari komunitas panjat tebing yang sudah mulai banyak di setiap daerah.

Jangan ragu untuk mulai bergabung dengan komunitas - komunitas panjat tebing ataupun organisasi panjat tebing seperti FPTI, mereka akan sangat terbuka untuk menerima setiap orang yang suka dengan olahraga ini. Bagi sebagian orang olahraga ini agak ‘seram’ kalau dilihat tetapi percayalah kalau sudah mencobanya anda malah ketagihan.

Beberapa persiapan atau prosedur yang harus dilakukan sebelum melakukan pemanjatan antara lain :

8.1 MELAKUKAN PEMANASAN (WARMING UP)

Tidak hanya dalam olahraga panjat tebing, pemanasan adalah hal wajib yang harus dilakukan sebelum kita memulai sebuah olahraga, apalagi untuk panjat memanjat yang membutuhkan kekuatan, kelenturan dan variasi gerakan yang sangat komplek. Lagipula manfaat dari melakukan pemanasan adalah agar tubuh tidak cedera saat latihan memanjat. Lakukan pemanasan dengan serius mulai dari kepala sampai kaki terutama di tempat-tempat yang renta terhadap cedera seperti leher dan sendi lainnya. Pemanasan bisa dilakukan selama 10 menit sampai 30 menit.

8.2 MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PERALATAN MEMANJAT

Melakukan pemeriksaan peralatan adalah hal wajib yang harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah memanjat, ini karena saat memanjat kita menggantungkan hidup pada peralatan tersebut, perhatikan apakah peralatan sudah sesuai dengan standar UIAA dengan kata lain semua peralatan harus berlisensi UIAA mulai dari harness, tali karnmantel dan lain sebagainya, perhatikan juga fisiknya karena sangat berbahaya untuk menggunakan peralatan yang sudah tidak layak pakai.

Perhatikan juga simpul-simpul yang digunakan haruslah sesuai standar karena kesalahan penggunaan simpul juga dapat berakibat fatal, penggunaan simpul tali yang benar selain membuat aman juga akan memperpanjang umur tali, oleh karena itu bagi pemanjat pemula sangat penting untuk selalu di bimbing oleh yang sudah mahir mengingat olahraga ini sangat beresiko.

8.3 MELAKUKAN PENDINGINAN

Setelah melakukan latihan pemanjatan maka lakukanlah pendinginan, pendinginan pasca latihan berfungsi untuk mengembalikan fungsi otot kembali ke keadaan normal dan juga berfungi untuk membakar asam laktat yang melekat di setiap tendon-tendon, asam laktat ini lah yang mengakibatkan munculnya rasa nyeri pada otot keesokan harinya. Lakukan pendinginan selama 5 menit sampai 15 menit selesai latihan.

IX. TEKNIK DASAR UMUM DALAM OLAHRAGA PANJAT TEBING

Teknik dasar yang umum dalam panjat tebing disini yaitu hanya sebatas teknik gerakan dalam memanjat, hal ini harus dipahami ketika hendak memanjat tujuannya adalah agar proses memanjat menjadi lebih efektif jadi tidak ada energy yang terbuang percuma. Walaupun dalam prakteknya tidak semua ketentuan-ketentuan dasar ini akan selalu dijumpai karena perbedaan jalur dan karakter setiap tebing akan tetapi prinsip dasar ini akan sangat membantu. Prinsip dasar yang harus diketahui adalah :

- Pertahankan 3 (tiga) titik kontak, saat memanjat ada 4 (empat) titik kontak yaitu kedua tangan dan kaki dan dalam proses memanjat sangat penting untuk tetap mempertahankan setidaknya 3 titik kontak, yaitu 1 (satu) kontak mencari pegangan atau pijakan sementara 3 (tiga) lainnya tetap menempel pada tebing. Cara seperti ini sangat membantu agar otot tidak mudah lelah ditambah lagi dengan mendapatkan titik keseimbangan yang sempurna.

- Saat menggenggam pegangan pada tebing usahakan posisi tangan selalu lurus, gunakan jangkauan setinggi-tingginya dalam menggapai pegangan, ingat fungsi tangan agar kita tetap menempel bukan menarik pegangan yang menbuat siku menjadi bengkok karena hal ini akan membuat otot tangan cepat lemas. Setelah meraih pegangan segera jatuhkan badan dengan menekuk kedua lutut dengan demikian posisi tangan akan menjadi lurus. Dengan posisi ini kerja otot tangan akan berkurang karena dibantu oleh otot bahu dan dada.

- Memanjat menggunakan kaki bukan dengan tangan, ini prinsip dasar memanjat yang terkadang sering dilupakan oleh pemanjat terutama pemanjat pemula. Ibarat memanjat tangga vertical seperti tangga di tower telekomunikasi, kita menggunakan kaki untuk memanjat yaitu dengan meletakkan kaki di anak tangga lebih dahulu baru mendorongnya keatas dan selalu kaki yang pertama di gerakkan baru diikuti dengan perpindahan tangan, ini karena tangan hanya digunakan agar kita tetap menempel di tangga tersebut. jangan terbalik, bisa dibayangkan betapa sulitnya untuk naik anak tangga tersebut menggunakan tarikan tangan sementara kaki hanya sekedar menempel tidak bekerja. begitu juga saat memanjat tebing gunakan kaki untuk menambah ketinggian bukan tangan, maksimalkan kerja kaki adalah cara paling baik dalam proses memanjat.

- Dalam penguasaan teknik memanjat, pengetahuan tentang medan pemanjatan sangatlah penting, mengetahui jenis batuan tebing akan sangat membantu menentukan teknik apa yang diperlukan untuk menyelesaikan jalur tersebut, juga kemampuan membaca jalurpun harus diasah terus menerus agar pemanjatan menjadi efesien. Prinsipnya 1 (satu), biarkan tebing yang mendikte kita untuk bergerak biarkan tebing yang mengarahkan kita agar harus melakukan ini dan itu, proses inilah yang membuat pemanjat lebih dekat dan bersahabat dengan alam. Oleh karena itu mengetahui nama-nama gerakan, pegangan, dan pijakan menjadi sangat perlu dengan demikian kita akan mengetahui setiap teknik yang akan digunakan untuk menyelesaikan pemanjatan tersebut. Lagipula dengan mengetahui nama-nama gerakan, pegangan dan pijakan dalam memanjat kita akan mudah untuk berkomunikasi dengan pemanjat lain tentang bagaimana menyelesaikan satu jalur panjat tertentu.

BACA JUGA : TEKNIK BACA JALUR YANG TEPAT DALAM PANJAT TEBING

- Aba-aba dalam panjat tebing adalah cara seorang pemanjat berkomunikasi dengan rekan memanjatnya, bisa dengan belayer ataupun dengan memanjat lainnya. Hal ini penting agar tidak terjadi misskomunikasi saat proses memanjat, jangan biasakan berkomunikasi dengan cara sendiri yang hanya dimengerti oleh kalangan sendiri saja, akan tetapi gunakan bahasa yang telah disepakati dan telah digunakan oleh sesama pemanjat diseluruh dunia. Berikut ini beberapa aba-aba yang paling sering digunakan saat memanjat :


X. PERALATAN DASAR DALAM PANJAT TEBING

Untuk mengetahui peralatan dasar dalam panjat tebing sangatlah banyak jenisnya, tergantung jenis pemanjatan yang dilakukan, peralatan untuk trad climbing misalnya akan sedikit berbeda dengan ice climbing, begitu juga peralatan untuk big wall climbing yang sangat banyak akan sangat tertolak belakang dengan beralatan yang biasa dipakai untuk bouldering. Oleh karena itu untuk mempermudah pemahaman kali ini penulis hanya akan membahas peralatan yang biasa dipakai untuk sport climbing saja dan hanya yang paling sering dipakai saja akan tetapi peralatan ini secara umum hampir semua dipakai dibeberapa jenis pemanjatan lainnya.


TALI KERNMANTLE

Tali kernmantel atau biasa disebut tali karmantel adalah tali yang paling populer dipakai saat ini dalam olahraga panjat tebing. Kernmantle berarti tali yang terdiri dari inti (kern) yang diselimuti (mantle)  sebagai pelindung. Ada 2 (dua) jenis tali kernmantle yang biasa digunakan yaitu statis dan dinamis keduanya berbeda dalam hal persentase kelenturannya akan tetapi sangat berpengaruh terhadap jenis penggunaan dan prilaku dalam perawatannya. Untuk lebih dalam masalah tali tersebut akan penulis bahas dilain kesempatan.

Tali yang sering dipakai saat memanjat adalah dari jenis dinamis karena memiliki tingkat kelenturan atau bisa merenggang sampai 30% dari total panjang tali dan ini sangat berguna agar tubuh tidak sakit saat terjatuh. Sementara tali jenis statis adalah tali kaku yang hanya bisa merenggang sampai 5% saja, oleh karena itu sangat efektif digunakan untuk Single Rope Technic (SRT) tali statis ini menjadi tali wajib bagi para pekerja diketinggian (rope access) dan juga vertical rescue. Kedua jenis tali ini memiliki panjang yang bervariasi mulai dari 50 meter, 60 meter, 75 meter juga 80 meter, tergantung keperluan yang pasti semakin panjang tali akan semakin sulit untuk dikelola. Diameter talipun berbeda-beda mulai dari 9.1mm, 10.2mm, 10.5mm, 11mm dan masih banyak lagi.


HARNESS

Harness adalah penghubung antara tubuh dengan tali, kenyamanan saat digunakan sangat penting untuk diperhatikan karena salah satu factor yang buat tubuh tidak merasa sakit saat terjatuh adalah dengan memilih harness yang sesuai, ukuran harness sama dengan memilih pakayan mulai dari ukuran S, M, L, XL. Harness ada dua jenis yaitu seat harnees dan full body harness. Untuk panjat tebing jenis seat harness paling banyak digunakan karena lebih sederhana sehingga tidak terlalu menggangu gerak tubuh. Sedangkan untuk Single Rope Technic (SRT) ataupun Vertical Rescue jenis Full Body Harness yang banyak digunakan.


SEPATU

Kalau memanjat dengan kaki telanjang kemampuan penggunaan kaki hanya 50% mungkin kurang maka dengan menggunakan sepatu panjat memampuan kaki akan menjadi 100%, jadi jelas disini fungsi utama sepatu panjat bukan untuk melindungi kaki tetapi untuk memaksimalkan fungsi kaki setelah itu barulah untuk melindungi kaki. Tanpa sepatu kita mungkin hanya bisa menggunakan tapak serta jempol kaki saja saat memanjat itupun hanya untuk pijakan yang berukuran besar saja. Kita akan kesulitan untuk menggunakan bagian kaki yang lain. 

Dengan memakai sepatu kita akan bisa menggunakan hampir seluruh bagian kaki, baik itu menggunakan sisi dalam kaki (inside edge) atau sisi luar (outside edge), heelhook ataupun toehook dan lain sebagainya. Oleh karena itu biasakan menggunakan sepatu dalam memanjat, pemilihan sepatu yang nyaman sangat berpengaruh terhadap proses memanjat. Sepatu dibuat untuk mengurangi slip pada kaki, perbedaan antara satu merek dengan merek lainnya adalah pada material sol sepatunya yang dirancang khusus. Katanya merek nomor satu untuk sepatu panjat saat ini adalah la sprotiva, ini bisa jadi kalau dilihat dari banyaknya pemanjat professional tingkat dunia yang memakai merek ini.


1. Carabiner Oval
2. Carabiner D
3. Carabiner Asymmetrical D
4. Carabiner Pear
5. Carabiner dengan gerbang (gate) lurus
6. Carabiner Bent Gate
7. Locking Carabiner
8. Wire Gate Carabiner

CARABINER

Carabiner atau cincin kait adalah alat pengaman pada panjat tebing, hampir semua instalasi pada system tali temali pada panjat tebing menggunakan alat ini, terbuat dari bahan alumunium alloy oleh karena itu alat ini sangat kuat dan ringan untuk digunakan. Ada banyak tipe carabiner tapi secara umum hanya ada 2 (dua) tipe yang paling sering disebut yaitu carabiner jenis snap dan screw. Berbicara masalah bentuk carabiner sangat bervariasi. Selalu perhatikan kondisi carabiner agar selalu dalam keadaan bagus, karena retak seukuran rambut saja bisa mengurangi kekuatan carabiner sampai 50%. Perhatikan juga gate pada carabiner kalau macet segera dibersikan agar kembali normal.


BUBUK MAGNESIUM DAN KANTONGNYA

Bubuk kapur magnesium carbonate (MgCO3) menjadi barang wajib saat memanjat karena fungsinya yang sangat bermanfaat yaitu untuk menyerap keringat yang ada pada telapak tangan, tangan yang basah sangat sulit untuk mencengkram tebing, resikonya kita akan terlepas dari jalur. Tangan akan cepat sekali berkeringat saat memanjat salah satu faktornya adalah karena tingkat stress yang tinggi saat memanjat. Maka tidak heran ketika melihat seorang pemanjat sering kali memasukkan tangannya ke kantong kapur (chackbag). Chackbag adalah kantong tempat diisi bubuk kapur yang diikat di sisi belakang pinggang pemanjat.

Saat ini bentuk kapur ada beberapa variasi mulai dari berbentuk kotak yaitu kapur yang sudah dipadatkan, bubuk, dan bentuk bola kantong yaitu bubuk kapur yang dimasukan dalam bola kain, selain itu ada juga dalam bentuk gel atau lotion, tapi umumnya di Indonesia penggunaan pakai bubuk masih terlalu populer, penulis pun lebih suka pakai bubuk, lebih gaya aja saat digunakan walau sesekali buat batuk. Pemakaian bubuk magnesium ini pertama kali di populerkan oleh john gill, yang dikenal juga sebagai pelopor bouldering di USA.


QUICK DRAW / RUNNER

Di Indonesia lebih populer di sebut runner adalah alat penghubung antara bolting yang tertanam pada tebing dengan tali panjat, runner terbentuk dari dua buah carabiner yang dihubungkan dengan sebuah sling. Runner tersedia dalam berbagai macam ukuran mulai dari yang pendek, sedang juga yang panjang. Agar jalur tali dan beban pada setiap runner seimbang dibutuhkan keahlian tersendiri dalam memasang ukuran runner pada jalur panjat. 


BELAY DEVICE

Belay Device atau alat belay adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menghentikan laju tali, terpasang pada belayer untuk mengamankan sipemanjat saat terlepas dari tebing ataupun bisa juga terpasang pada si pemanjat disaat akan menuruni tebing (rapperling). Bentuk belay device yang paling umum adalah seperti angka 8 biasa disebut figure of eight,terbuat dari bahan yang sama dengan carabiner, figure of eight ini adalah alat belay paling merakyat, paling banyak dipakai mungkin karena lebih murah dan instalasinya yang gampang dan cepat. Belay device ATC produksi Black Diamond atau pun Reverso dari Petzl  juga tidak kalah populer untuk saat ini. 

Selain 3 (tiga) jenis alat belay diatas, ada 1 (satu) lagi yang juga sangat diminati sebagai alat belay yaitu Grigri produksi Petzl, walau alat ini lebih mahal tapi sebanding dengan fungsi yang dimilikinya. Grigri bekerja otomatis, alat ini akan otomatis menggunci saat dibebani jadi bisa membelay dengan sendirinya. Dari semua alat belay grigri memiliki tingkat keamanan paling tinggi, kelemahannya adalah dia hanya bekerja sesuai dengan ukuran tali yang telah ditentukan dan tidak efektif untuk tali basah atau beku.

HELMET

Alat pelindung kepala sangat berguna saat memanjat mengingat kepala adalah alat paling vital dan paling rentan terjadi kecelakaan, lagipula sepertinya ini adalah satu-satu alat yang dipakai sebagai pelindung saat memanjat. Bahaya kearah kepala bisa timbul dari pecahan batu yang jatuh dari atas ataupun tubuh yang terayun keras membentur kearah permukaan tebing. Mungkin helm kurang diperhatikan untuk pemanjatan di dinding panjat tetapi menjadi berbeda saat kita memanjat di tebing asli.



WEBBING

Tali berbentuk pita ini sangat banyak manfaatnya dalam olahraga panjat tebing, terdiri dari dua macam ada webbing sigle dan webbing double. Sling adalah webbing yang di loop atau di bentuk melingkar lalu disimpul. Salah satu fungsi sling dari webbing ini adalah untuk membuat anchor bisa juga untuk membuat runner, harness dan lain sebagainya.

Dengan beberapa peralatan diatas, anda sudah bisa melakukan olahraga panjat tebing. akan tetapi untuk membuat jalur panjat pada tebing dibutuhkan beberapa peralatan lain seperti bor baik itu bor listrik ataupun bor tangan, palu, bolting, skyhook, brush dan lain-lain, akan penulis bahas dilain kesempatan dimasalah pembuatan jalur untuk panjat tebing.

XI. TEKNIK DASAR GERAKAN DALAM PANJAT TEBING

Secara umum saat memanjat tebing hanya ada 3 (tiga) teknik yang dilakukan yaitu teknik gerakan, pegangan dan pijakan, terlepas dari teknik penggunaan alat. Pelajari semuanya minimal ketahui yang paling sering dipakai atau yang paling banyak dijumpai saat memanjat, ini sangat berguna saat anda akan membaca jalur sebelum pemanjatan selain itu dengan mengetahui jenis dan nama-nama gerakan, pegangan dan pijakan anda tidak kebingungan saat rekan anda memberi petunjuk bagaimana cara menyelesaikan satu jalur pemanjatan dengan bahasa standar dalam olahraga panjat tebing.

Secara umum kalau dilihat dari bentuk permukaan tebing, hanya ada 3 (tiga) jenis bentuk permukaan dan cara pemanjatannya, yaitu :

- Face Climbing
- Friction/ Slab Climbing
- Fissure Climbing

11.1 FACE CLIMBING

Face climbing adalah teknik memanjat di permukaan tebing yang memiliki tonjolan ataupun rongga yang memadai untuk dijadikan pegangan, pijakan dan menjaga keseimbangan tubuh. Bentuk ini adalah yang paling banyak ditemui pada sebuah tebing, wall climbing atau dinding panjat umumnya juga adalah face climbing.

Setidaknya ada 5 (lima) gerakan yang paling sering dipakai untuk face climbing, antara lain :

- Outside Edge
- Flag
- Twislock
- Dropknee
- Frog

1. OUTSIDE EDGE

Outside edge adalah gerakan dengan posisi pijakan menggunakan ujung kaki  sisi bagian luar, posisi ini paling banyak ditemui saat memanjat, hanya dengan pertumpu pada satu kaki anda akan sangat mudah mendapatkan keseimbangan pada gerakan ini.


2. FLAG

Kalau outside edge bertumpu menggunakan kaki bagian luar maka flag menggunakan ujung kaki bagian dalam, flag juga mudah untuk mendapatkan keseimbangan tubuh walau hanya dengan bertumpu dengan 1 (satu) kaki. 


3. TWISLOCK

Teknik gerakan yang satu ini mempunyai arti setelah menemukan pijakan lalu memutar posisi kaki tersebut sedemikian rupa sehingga bisa memperpanjang jangkauan tangan, sangat baik digunakan pada gerakan diagonal (diagonal movement).


4. DROP KNEE

Teknik gerakan ini hampir sama dengan twislock ada putaran pada antara salah satu kaki, perbedaannya ada pada lebar tumpuan kaki, dengan kata lain teknik ini benar benar menggunakan salah satu kaki sebagai tumpuan.


5. FROG

Dari namanya sudah tergambar bagaimana posisi tubuh pada teknik ini, dengan kedua kaki sejajar dan kedua lutut di tekuk posisi ini mirip seperti katak, salah satu posisi paling nyaman saat memanjat karena dengan posisi ini tangan bisa lurus jadi tidak mudah lelah.


11.2 FRICTION / SLAB CLIMBING

Di Indonesia lebih populer disebut tebing slab, yaitu tebing yang tidak terlalu vertical tetapi memiliki permukaan yang rata jadi untuk memanjatnya pun dengan teknik khusus biasa disebut teknik friction (gesekan). Gaya gesek terbesar dapat diperoleh dengan cara membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu sangat berperan disini ditambah dengan pembebanan maksimal diatas kaki akan membuat pemanjatan jenis ini menjadi lebih mudah.


11.3 FISSURE CLIMBING

Teknik memanjat fissure ini dilakukan dengan memanfaatkan celah tebing, crack climbing masuk ke jenis ini, hanya saja pada fissure climbing celahnya masih sangat bervariasi, mulai dari celah yang hanya bisa dimasuki oleh jari-jari tangan sampai celah seukuran tubuh pemanjat bahkan sampai harus melebarkan kedua belah kaki untuk melewatinya. Dengan kondisi demikian artinya ada banyak teknik dalam fissure climbing ini tergantung lebar celah, antara lain :

1. JAMMING

Jamming adalah teknik memanjat pada celah tebing yang tidak begitu besar, mulai dari celah yang hanya jari dan telapak tangan sampai sebagian bahu anda saja yang bisa masuk ke celah tersebut. pada jenis ini anda benar-benar hanya memanfaatkan celah (crack) pada saat memanjat. Peralatan yang digunakanpun kebanyakan hanya pengaman sisip.


2. CHIMNEYING

Pada jenis ini celah sudah lebih lebar dari untuk bisa masuk seluruh tubuh, untuk melewati jalur jenis ini anda bisa menggunakan punggung yang ditempelkan di sisi tebing bagian belakang dan menempelkan kaki di sisi tebing didepannya, kedua tangan juga ditempel disisi-sisi tebing untuk membantu gerak vertical anda.


3. BRIDGING

Bridging adalah teknik memanjat celah vertical yang bisa dibilang cukup besar (gullies). Anda harus merentangkan kedua kaki dan tangan untuk bisa melewati jalur tersebut yaitu dengan posisi kaki mengangkang sebagai tumpuan ditambah dengan rentangan tangan untuk menjaga keseimbangan anda. 


4. LAY BACK

Teknik memanjat celah yang terbentuk di sudut tebing, satu sisi tebing berada di samping dan satu sisi lagi berada di depan. Celah biasanya tidak terlalu besar. Untuk memanjat jalur ini caranya adalah dengan menempelkan kedua jari tangan ke celah dan menempelkan kedua kaki di sisi tebing yang terhadapan dengan kita. Jadi dengan posisi tangan menarik dan kaki mendorong anda bisa bergerak vertical dengan cara ini.


5. HAND TRAVERSE

Teknik gerakan menyamping bisa horizontal ataupun diagonal dan hanya mengandalkan kekuatan tangan untuk melewatinya karena tidak ada pijakan dijalur tersebut, Butuh kekuatan jari yang besar dan juga teknik menggunakan kaki sebagai pengganti tangan untuk menggantung (hooking) agar kerja tangan bisa lebih ringan.


6. MANTELSEFL

Teknik memanjat teras-teras kecil pada tebing yang letaknya agak tinggi tetapi cukup besar digunakan sebagai tempat berdiri. Kedua tangan digunakan untuk menarik tubuh dibantu dengan gerakan kaki. Kalau posisi teras setinggi dada maka tangan digunakan untuk menekan kebawah sehingga tubuh terdorong keatas. Memanjat dinding pagar beton atau saat anda akan naik dari kolam renang ke atas adalah contoh dari gerakan ini.


Selain jenis-jenis gerakan diatas masih ada beberapa gerakan lagi yang biasa dilakukan saat memanjat, yaitu :

11.4 REST

Teknik untuk menemukan tempat dan memposisikan tubuh senyaman mungkin untuk istirahat adalah tujuan dari teknik ini. Kunci dari teknik ini adalah sebisa mungkin beban tubuh ada pada pijakan jadi anda bisa melepaskan pegangan tangan secara bergantian untuk perenggangan. Perlu di ingat juga rest position juga dimanfaatkan untuk menentukan langkah pemanjatan selanjutnya.

11.5 CLIPPING

Clipping adalah cara memasukkan tali pengaman yang ada di harness ke runner yang tersedia di jalur, sebisa mungkin salah satu posisi tangan dalam keadaan lurus dan tangan satunya lagi dengan cepat memasukan tali utama ke runner setelah runner dalam jangkauan. Perhatikan posisi gate carabiner sebelum melakukan teknik clipping dengan demikian anda dengan cepat bisa menentukan metode yang dipakai untuk memasukan tali.

11.6 DIPPING

Teknik saat mengambil bubuk magnesium saat dirasa perlu yaitu dengan cara memasukkan salah saatu tangan ke chackbag yang ada di pinggang bagian belakang. Usahakan saat mengambil magnesium dalam posisi menguntungkan.

11.7 STRIKE ARM

Teknik yang dipakai pada saat rest position, clipping dan juga dipping, yaitu dengan memposisikan salah satu tangan yang menjadi tumpuan dalam keadaan lurus, posisi ini berfungsi agar otot lengan tidak mudah lelah jadi bisa menghemat tenaga.

XII. TEKNIK DASAR PEGANGAN DAN PIJAKAN DALAM PANJAT TEBING

12.1 TEKNIK PEGANGAN

Sebenarnya jenis pegangan pada panjat tebing sangatlah banyak, akan tetapi penulis akan membahas beberapa yang paling sering digunakan saat memanjat, antara lain :

1. JUG

Jug / bucket ini adalah jenis pegangan yang paling disukai khususnya oleh para pemanjat pemula, bahkan ada yang menyebutnya dengan Thank-God Hold atau pegangan yang diberkahi tuhan. Bagi pemanjat yang sudah mahir jika menemukan pegangan seperti ini bisa berhenti sejenan untuk ngopi atau makan indomie. Jug adalah jenis batuan yang menonjol bisa digenggam oleh seluruh telapak tangan untuk menggantung bebas.


2. CRIMP

Crimp adalah pegangan yang umumnya sangat digemari oleh pemanjat yang sudah mahir, pegangan yang tidak begitu besar tetapi sangat nyaman digenggam dengan menggunakan ke-empat jari tangan. Crimp dipakai pada saat arah pegangan normal yaitu menghadap ke atas. Teknik ini terbagi 3 (tiga) macam yaitu Clouse Crimp, Open Crimp dan Half Crimp. Perbedaannya terletak pada posisi ibu jari.


3. SLOPPER

Sebuah tonjolan yang bentuknya seperti kurva, besar yang sangat bervariasi, dengan permukaannya yang halusmenjadikan jenis pegangan ini sangat sulit untuk digenggam dan menjadi salah satu jenis pegangan yang paling ditakuti oleh para pemanjat 


4. PINCH

Tonjolan kecil yang hanya bisa dipegang dengan cara dijepit dengan jari atau lebih mirip dicubit kalau bentuknya terlalu kecil. Kalau keseimbangan tubuh sempurna pegangan jenis ini tidak begitu sulit sebaliknya kalau keseimbangan tubuh tidak sempurna pegangan ini menjadi sangat menakutkan.


5. POCKET

Poket atau kantung adalah jenis pegangan berbentuk lubang atau rongga di permukaan tebing yang tidak begitu besar, hanya muat beberapa jari saja bahkan ada yang hanya untuk satu jari saja. 


6. SIDEPULL

Pegangan yang berada di sisi samping pemanjat, cara memegangnya adalah dengan memegang dengan arah yang berlawanan. Apabila posisi pegangan disebelah kiri maka tarikan atau bebannya kea rah kanan begitupula sebaliknya.


7. UNDERCUT

Undercut adalah pegangan yang mirip dengan jug, yang membedakan adalah arah pegangannya. Pada undercut pegangan dari arah bawah.  


 12.2 TEKNIK PIJAKAN

Dengan menggunakan sepatu panjat anda bisa memaksimalkan fungsi kaki, hampir seluruh bagian dari kaki bisa dimanfaatkan untuk pijakan. Setidaknya ada 3 (tiga) jenis pijakan dalam panjat tebing yaitu : 

1. Menggunakan sisi samping sepatu baik sisi luar ataupun sisi dalam (edging)
2. Menggunakan bagian bawah sepatu/tapak (smearing/frictions)
3. Menggunakan sisi sepatu bagian belakang/tumit ataupun sisi bagian atas (hooking).

1. EDGING

Edging adalah teknik pijakan yang paling umum dan paling banyak dilakukan saat memanjat, menggunakan sisi sepatu bagian depan baik sisi luar ataupun bagian dalam. Dengan menggunakan sepatu panjat anda bisa melakukan pijakan jenis ini walau pijakan itu sangat kecil dan tidak mungkin dilakukan dengan kaki telanjang.


2. SMEARING

Smearing/frictions adalah teknik pijakan menggunakan tapak sepatu, anda bisa menggunakan sebagian atau keseluruhan dari tapak sepatu untuk memanjat, apalagi dengan bahan sol sepatu yang baik teknik ini sangat efektif pada jenis tebing dengan kemiringan kurang dari 90 derajat (slab).


3. HOOKING

Hooking adalah teknik pijakan yang digunakan untuk mengganti fungsi tangan saat menggantung atau menempel di tebing, ada 2 (dua) jenis hooking, yaitu :


HEELHOOK : yaitu teknik pijakan menggunakan sisi sepatu bagian belakang atau tumit, biasa digunakan untuk mengganti fungsi tangan saat menggantung sehingga berat tubuh akan terbagi dan menjadi lebih ringan, dengan teknik ini juga bisa menambah panjang jangkauan tangan.


TOEHOOK : memiliki fungsi yang sama dengan heelhook tetapi menggunakan sisi sepatu bagian atas, biasa dilakukan untuk jangkauan yang melebar ke samping.

XIII. SIMPUL - SIMPUL DASAR DALAM PANJAT TEBING

Mengingat panjat tebing adalah salah satu olahraga alam bebas yang beresiko tinggi dan dalam kegiatannya hampir tidak pernah lepas dengan tali-temali, bahkan menurut pengalaman penulis seorang pemanjat tebing lebih dipercaya oleh rekan-rekannya dalam urusan tali-temali dibanding dari bidang olahraga alam bebas yang lain. Oleh karena itu pengetahuan tentang simpul dan tali temali mutlak harus dikuasai oleh seorang pemanjat tebing.

Ada banyak sekali jenis simpul, tercatat ada sekitar 4000 jenis simpul yang ada didunia ini dalam berbagai bidang penerapan, termasuk didalamnnya adalah simpul dalam bidang panjat tebing. Tetapi yang perlu di ingat kita sudah bisa memanjat dengan menguasai beberapa simpul saja. Semua jenis-jenis simpul dibuat tergantung dari tujuan, penggunaan, serta tingkat efektifitasnya. Terkadang kita membutuhkan sebuah simpul yang kuat tetapi yang gampang dilepas dilain waktu kita membutuhkan simpul yang kuat dan tidak mudah lepas dan lain sebagainya.

13.1 DIFINISI

Terdapat perbedaan antara simpul, tali dan jerat dan ini sering dicampur adukkan pengertiannya, padahal ketiga unsur tersebut sangat berbeda satu sama lainnya. Tali adalah bendanya dan Simpul adalah hasil bentukan dari dua buah tali atau lebih, sederhananya simpul adalah pertemuan antara tali dengan tali. Sementara jerat adalah pertemuan antara tali dengan benda lain bisa berupa kayu, batu, besi atau benda-benda lainnya. Contohnya adalah Fisherman knot (simpul), Clovehitch (jerat), Karmantel (tali).

Untuk melihat simpul yang baik dan benar, bisa dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut :

- Mudah untuk dibuat
- Mudah untuk dilihat kebenaran lilitannya
- Aman, tidak mudah bergeser dan tidak bertumpuk saat dibebani
- Mudah juga untuk dilepas
- Simpul harus seminimal mungkin mengurangi kekuatan tali

13.2 SIMPUL – SIMPUL DASAR DALAM PANJAT TEBING

Seperti yang telah disinggung diatas sebenarnya sangat banyak jenis simpul termasuk yang biasa dipakai dalam panjat tebing, tapi bagi seorang pemanjat hanya butuh mengetahui beberapa simpul saja sudah bisa memanjat. Disini penulis membatasi simpul yang biasa dipakai pada jenis pemanjatan sport climbing tingkat pemula dengan jalur yang sudah tersedia. Berdasarkan pengalaman penulis hanya dengan menguasai 3 (tiga) jenis simpul ini kita sudah bisa untuk memanjat, antara lain :

FIGURE OF EIGHT FOLLOW THROUGH

Simpul ini adalah salah satu variasi dari dasar simpul delapan (figure of eight), setidaknya ada 6 variasi dari simpul delapan yang penulis ketahui dan akan dibahas dilain kesempatan. Mengingat simpul ini adalah simpul wajib yang harus dikuasai oleh setiap pemanjat.

Semua pemanjat harusnya hafal mati dengan simpul ini,karena hampir 90% pemanjat dunia menggunakan simpul ini. Kalau ada yang ngaku pemanjat namun tidak tahu simpul ini perlu dipertanyakan kemampuan memanjatnya ataupun jangan manjat sama dia.

Fungsi simpul ini adalah sebagai simpul pengaman utama, simpul penghubung antara tali karmantel dengan harness si pemanjat juga sering dipakai sebagai simpul untuk membuat anchor. Cara membuatnya adalah dengan terlebih dahulu membuat simpul depalan tunggal lalu ujung talinya di masukan ke harness, setelah itu ujung tali dimasukan lagi mengikuti bentuk simpul delapan tunggal tadi. 

Kelebihan simpul ini adalah :

- Simpul ini mudah dibuat dan mudah diperiksa kebenaran lilitannya.
- Simpul ini memiliki kekuatan 70% - 80% jadi lebih kuat dari simpul bowline.

Kelemahan simpul ini adalah :

Kalau terlalu sering diberikan beban misalnya sering terjatuh akan sulit untuk melepas simpul ini. Tetapi menjadi keuntungan kalau anda ingin terus memanjat karena tali terikat makin kuat. Salah satu cara melepasnya dengan memegang kedua sisi angka delapannya lalu menggoyang-goyangkan tangan keatas dan kebawah dengan demikian simpul akan lentur dan mudah untuk dilepas.


FISHERMAN KNOT 

Simpul ini biasa disebut juga simpul nelayan, salah satu simpul terkuat untuk menyambung tali yang berbentuk bulat dan sama besar, sangat efektif digunakan pada kodisi kering ataupun basah dan licin. Cara membuatnyapun tidak terlalu rumit yaitu dengan menggabungkan kedua ujung tali dengan simpul double overhand knot. Dalam panjat tebing simpul ini biasa dipakai untuk menyambung tali yang akan dibuat untuk anchor.


OVERHAND FOLLOW THROUGH

Simpul ke -3 (tiga) yang harus anda kuasai sebelum memanjat adalah Overhand Follow Through atau Water knot, banyak juga yang menyebutnya dengan simpul pita, simpul ini memiliki fungsi yang sama dengan simpul nelayan, perbedaannya ada pada penggunaan tali, simpul pita ini sangat efektif digunakan pada tali berbentuk pipih seperti webbing. Webbing sangat banyak manfaatnya dalam panjat tebing misalnya untuk membuat anchor ataupun runner dan lain sebagainya.



PENULIS : Nad Outdoorlife - Zulkarnain Nad

Artikel TEKNIK DALAM PANJAT TEBING ini ditulis oleh Nad Outdoorlife Terima kasih telah membaca artikel ini, Silahkan di SHARE jika bermanfaat, sertakan link aktif jika ingin meng-copy atau tinggalkan KOMENTAR jika ingin bertanya.

Tidak ada komentar:

TANGGAPI ARTIKEL INI

Silahkan bertanya sesuai topik pembahasan atau memberi masukan. Penulis dengan senang hati akan menanggapi. Hanya komentar yang relevan yang akan ditampilkan.