Laman

MENGENAL TEKNIK FREE SOLO CLIMBING DALAM PANJAT TEBING


Dalam olahraga panjat tebing dikenal beberapa teknik pemanjatan, tetapi secara garis besar ada tiga teknik yang perbedaannya paling mendasar diantaranya adalah Free Climbing yaitu memanjat dengan peralatan hanya sebagai pengaman saat terjatuh. Artificial Climbing yaitu memanjat dengan peralatan sebagai pengaman sekaligus sebagai penambah ketinggian dan terakhir Free Solo Climbing sebenarnya Free Solo adalah bagian dari Free Climbing perbedaannya adalah pemanjatan dilakukan tanpa pengaman sama sekali. Bisa dikatakan ketiga teknik tersebut merupakan strategi yang bisa dipilih untuk menyelesaikan sebuah jalur pemanjatan.

Teknik Free Climbing dan Artificial Climbing mungking sudah sangat familiar karena sering didengar bahkan sering dipakai dalam menyelesaikan satu jalur pemanjatan. Sedangkan Free Solo Climbing, walau tidak asing tetapi untuk ukuran di Negara kita masih sangat jarang dilakukan bahkan sepertinya hingga saat ini belum ada pemanjat kita yang di ‘label’ sebagai pemanjat Free Solo, tidak seperti beberapa pemanjat diluar negeri sebut saja Alex Honnold yang mengaku dirinya sebagai pemanjat Free Solo dan masih sangat aktif memanjat hingga saat ini. Selain Alex Honnold ada beberapa pemanjat Free Solo terbaik lainnya yang sangat berpengaruh seperti Dan Osman, Dean Potter, John Bachar, Peter Croft, Allain Robert, Steph Davis dan Catherine Destivelle. Kali ini penulis akan membahas sekilas tentang pemanjatan yang penuh dengan resiko ini.

PENGERTIAN FREE SOLO CLIMBING

Free Solo Climbing adalah salah satu teknik pemanjatan dalam olahraga panjat tebing yang dilakukan hanya mengandalkan kekuatan badan untuk menambah ketinggian tanpa alat pengaman sama sekali saat terjatuh. Teknik yang sangat beresiko bahkan terdengar gila dikalangan sesama pemanjat apalagi orang awam. Tetapi sebenarnya dibalik kegilaan itu ada persiapan yang sangat matang dilakukan jauh sebelum pemanjatan untuk Free Solo itu dilakukan.

PERALATAN PADA FREE SOLO CLIMBING

Bebas, asalkan tanpa alat pengaman. Tetapi idealnya perlengkapan untuk pemanjatan Free Solo terbatas hanya untuk memaksimalkan fungsi kaki dan tangan saja yaitu, Sepatu panjat dan Chackbag dengan bubuk Magnesiumnya.

RESIKO FREE SOLO CLIMBING

Dalam panjat tebing sebenarnya bukan Free Solo saja yang dilakukan tanpa pengaman terpasang di tubuh, ada beberapa teknik pemanjatan lain seperti Bouldering, ada juga Highball Bouldering yaitu Bouldering dengan ketinggian diatas 4 meter ada juga Deep Water Solo / Psicobloc. Mungkin untuk Bouldering dan Deep Water Solo resikonya tidak terlalu besar karena masih dilindungin oleh crashpad tebal untuk Bouldering dan air untuk Deep Water Solo, kecuali untuk Highball Bouldering walau ada pelindung crashpad sebagai tempat landing, tetap saja dengan ketinggian yang cukup signifikan resikonya juga sudah cukup besar.

Perbedaan resiko kecelakaan saat terjatuh antara Highball Bouldering dengan Free Solo Climbing adalah kalau pada Highball resiko terbesar anda bisa patah tulang bahkan geger otak tetapi kalau terjatuh saat Free Solo Climbing kemungkinan 99% mati.


MENTAL DAN FISIK PEMANJAT FREE SOLO 

Pemanjatan jenis Free Solo jelas hanya dilakukan oleh pemanjat tingkat mahir dan berpengalaman, seorang yang berencana melakukan pemanjatan jenis ini tentu yang sudah khatam soal teknik memanjat. Oleh karena itu penulis lebih tertarik membahas masalah mental dan fisik saja. Dalam Free Solo, persiapan mental adalah hal terpenting, selain dari kemampuan fisiknya, kita tahu kalau mental lemah, kondisi fisik sekuat apapun akan ikutan melemah begitupun otak sepintar apapun akan mandek kalau mental tak ada.

Mental itu bisa ditingkatkan dengan cara dilatih bahkan mungkin bisa menular, apalagi aktifitas yang dilakukan sesuai dengan minat dan bakatnya. Seperti Alex Honnold yang sangat percaya diri dan hebat dalam memanjat Free Solo tetapi mungkin akan gugup kalau harus berorasi di depan ribuan orang atau saat dibonceng oleh Rossi dengan Motor GP nya begitu juga sebaliknya.

Mental untuk bertahan hidup seorang pemanjat free solo itu sangat besar, ditunjang dengan kemampuan fisik yang terukur membuat seorang Free Soloer tetap bisa berfikir logis ketika menghadapi masalah sesulit apapun di tengah pemanjatan. Dalam hal ini Kompetisi bukan satu-satunya ukuran, terbukti banyak pemanjat kelas dunia yang menjuarai bahkan di beberapa turnamen bertaraf international tetapi bukan pemanjat Free Solo, terlepas Free Solo ini adalah sebuah pilihan dalam gaya memanjat.

Panjat tebing adalah olahraga yang berat karena harus melawan hukum, yaitu hukum grafitasi. Oleh karenanya memiliki ketahanan fisik yang baik adalah sebuah keharusan saat akan memanjat bukan hanya untuk pemanjatan Free Solo tetapi semua jenis pemanjatan dalam olahraga ini, lagipula kondisi fisik juga sangat mempengaruhi mental. Namun bukan hal yang mudah untuk bisa memiliki ketahanan fisik terbaik, dibutuhkan ketekunan dan kerja keras terus menerus agar bisa dalam kondisi tersebut. Free Solo itu mengutamakan kekuatan dan kelenturan badan, serta strategi yang bagus agar bisa menyelesaikan pemanjatan dengan sempurna [baca; selamat].

PENGUASAAN JALUR PANJAT

Mungkin saat melihat seorang pemajat Free Solo anda akan berfikir apakah dia tidak takut terpeleset, atau tiba-tiba tak mampu lagi meneruskan pemanjatan atau secara tak sengaja digigit limpan, terjepit ekor tokek dan lain sebagainya. Hal itu wajar, tetapi apakah anda tahu di balik aksi memukau saat memanjat sebenarnya Ia telah lebih dulu mencoba jalur tersebut berkali-kali menggunakan tali pengaman sampai Ia hapal mati dengan jalur tersebut. Setelah merasa yakin barulah Ia memanjat tanpa menggunakan mengaman (Free Solo Climbing). Jarang sekali ada pemanjat Free Solo yang memanjat di jalur yang tidak dikenalnya dengan baik.

Penulis sangat setuju dengan salah satu artikel yang mengibaratkan panjat tebing dengan sebuah pesawat yang sedang terbang, mungkin lebih tepatnya untuk Free Solo Climbing. Agar bisa sampai ke tujuan dengan selamat pesawat tersebut harus tetap terbang, tak ada istilah mogok ditengah perjalanan, mogok berarti ‘terjun bebas’. Berbeda dengan mendaki gunung yang bisa berhenti dan istirahat lama sebelum melanjutkan pendakian dalam panjat tebing istirahatpun tak boleh lama. Mengingat resiko yang sangat besar maka tak boleh ada kesalahan, semua harus di persiapkan dengan sangat matang.

Seorang pemanjat solo bukanlah orang yang tidak takut mati, justrus Ia memiliki startegi bertahan hidup dengan sangat baik. Dibawah ini adalah jawaban Alex Honnold, dalam sebuah wawancara saat ditanya apakah Ia tak takut jika sewaktu-waktu harus menemui ajalnya saat sedang memanjat : 

“Aku punya keinginan untuk bertahan hidup layaknya semua orang. Aku punya rasa mampu menerima yang lebih kalau aku mati di satu masa.” Ujarnya saat di wawancarai oleh Simon Worrall dari National Geographic US.

PENULIS : Nad Outdoorlife - Zulkarnain Nad

Artikel MENGENAL TEKNIK FREE SOLO CLIMBING DALAM PANJAT TEBING ini ditulis oleh Nad Outdoorlife Terima kasih telah membaca artikel ini, Silahkan di SHARE jika bermanfaat, sertakan link aktif jika ingin meng-copy atau tinggalkan KOMENTAR jika ingin bertanya.

Tidak ada komentar:

TANGGAPI ARTIKEL INI

Silahkan bertanya sesuai topik pembahasan atau memberi masukan. Penulis dengan senang hati akan menanggapi. Hanya komentar yang relevan yang akan ditampilkan.